DM Media
Religi Saur Kang Yai Terbaru

Ketika Dosa Mengajarkanku Jalan Pulang

Ada masa dalam hidup ketika manusia berjalan menjauh dari cahaya, bukan karena ia membenci terang, melainkan karena terlalu lama berteman dengan gelap. Dosa perlahan menjadi kebiasaan, lalu kenyamanan, hingga akhirnya dianggap sebagai nasib. Pada titik itu, hati tidak lagi bertanya benar atau salah ia hanya bertahan.

Manusia sering lupa bahwa tersesat bukanlah akhir dari perjalanan. Tersesat adalah tanda bahwa kita pernah berjalan. Dan siapa pun yang pernah berjalan, selalu memiliki kemungkinan untuk kembali.

Dosa memang tidak pernah suci. Namun dari sanalah kadang lahir kesadaran paling jujur tentang rapuhnya diri. Ketika kesombongan runtuh, ketika dalih tak lagi sanggup menenangkan hati, di situlah jiwa mulai mengenal satu kata yang lama asing yakni pulang.

Saur Kang Yai

“Dosa itu bukan untuk dibanggakan, tapi ia sering menjadi cermin. Dari cermin itulah manusia melihat betapa ia sangat membutuhkan Allah.”

Pada hakikatnya, manusia bukan makhluk yang selalu kuat, melainkan makhluk yang selalu membutuhkan. Dan dosa mengajarkan satu pelajaran paling mendasar bahwa tanpa pertolongan Allah, manusia mudah tergelincir oleh keinginannya sendiri.

Ada pendosa yang tidak pernah berhenti berdoa, meski doanya sering tertahan oleh rasa malu. Ada air mata yang jatuh tanpa suara, bukan untuk disaksikan manusia, tetapi sebagai pengakuan sunyi di hadapan Tuhan. Dan justru dari pengakuan itulah rahmat mulai mendekat.

Allah tidak memanggil orang-orang yang merasa bersih, melainkan mereka yang sadar bahwa dirinya kotor dan ingin disucikan. Maka Al-Qur’an menenangkan jiwa-jiwa yang nyaris putus asa:

قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini bukan sekadar janji, tetapi undangan. Undangan bagi jiwa-jiwa yang lelah oleh kesalahan. Undangan bagi mereka yang ingin pulang, meski langkahnya tertatih dan penuh luka.

Saur Kang Yai

“Setan tidak ingin manusia terus berdosa. Ia ingin manusia merasa tak layak kembali. Karena saat harapan mati, di situlah kehancuran dimulai.”

Taubat bukan sekadar berhenti dari dosa, melainkan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu dan menata arah baru. Ia adalah keputusan sunyi yang lahir dari kesadaran terdalam bahwa hidup tanpa Allah hanyalah perjalanan tanpa tujuan.

Jalan pulang tidak selalu lurus dan terang. Kadang ia berliku, penuh ingatan yang menyakitkan. Namun setiap langkah menuju Allah, sekecil apa pun, selalu bernilai. Bahkan niat untuk berubah pun telah dicatat sebagai cahaya.

Allah tidak menuntut kita datang dengan amal yang sempurna. Ia hanya menunggu hati yang jujur. Hati yang berkata, “Aku pernah jauh, dan aku ingin dekat kembali.”

Di pagi ini, ketika dunia terdiam dan langit membuka pintu rahmatnya, barangkali inilah saat terbaik untuk merenung
bahwa dosa tidak pernah lebih besar dari kasih Allah,
dan jalan pulang selalu ada selama hati masih mau berbalik arah.

Karena sejatinya, yang tersesat bukanlah mereka yang pernah salah,
melainkan mereka yang enggan kembali…Djz

**SaurKangYai adalah kumpulan ceramah KH. Yayat Hidayat ( Pengasuh Pontren Daarul mukhlishin)

Related posts

Pj Bupati Iip Ingin Gelar Festival Durian Di Cibuntu

DM

Wakili Kuningan di Kompetisi Tingkat Jabar, Proton FC Kerahkan Pasukan U-15

DM

Ketua PBVSI Kuningan: Tim Voli Siap Hadapi BK Porda, Bekasi Jadi Lawan Berat

DM

Leave a Comment