Tidak semua orang diberi kemampuan untuk menghibur, menenangkan, atau menghadirkan senyum di wajah sesamanya. Ada yang hadir hanya sebagai pendengar, ada pula yang sekadar lewat dalam hidup orang lain. Dan itu bukan kekurangan. Yang patut dijaga adalah agar kehadiran kita tidak berubah menjadi luka melalui ucapan yang tak beradab.
Saur Kang Yai.
Jika hati tidak dijaga, kata-kata mudah berubah menjadi duri.
Dalam Ta‘līm al-Muta‘allim, Imam Az-Zarnuji menasihatkan:
إِيَّاكَ وَكَثْرَةَ الْكَلَامِ، فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الْهَيْبَةَ وَيُوقِعُ فِي الزَّلَلِ
“Hindarilah banyak bicara, karena ia menghilangkan kewibawaan dan menjerumuskan pada kesalahan.”
Banyak luka batin bukan lahir dari perbuatan besar, melainkan dari kalimat yang diucapkan tanpa empati. Kebenaran yang disampaikan tanpa adab sering kali kehilangan berkahnya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn juga mengingatkan:
آفَةُ اللِّسَانِ أَشَدُّ مِنْ آفَةِ سَائِرِ الْجَوَارِحِ
“Penyakit lisan lebih berbahaya daripada penyakit anggota tubuh lainnya.”
Karena satu ucapan dapat mematahkan semangat, meruntuhkan kepercayaan, bahkan menjauhkan seseorang dari kebaikan.
Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah agung:
“Berkatalah yang baik atau diam.”
Diam yang menjaga hati orang lain adalah adab.
Dan adab, selalu mendahului ilmu.
Maka jika hari ini kita belum mampu menjadi sebab senyum, setidaknya jangan menjadi sebab luka. Karena kelak, bukan hanya amal yang ditanya, tetapi juga kata-kata yang pernah kita lepaskan.
Penulis Djz

